SARINAH
Oleh: DPC
Gmni Purwokerto
Buku “Sarinah”
selesai cetak November 1947. Kata Soekarno, buku ini berisi bahan – bahan yang
disampaikannya saat kursus wanita di Jogjakarta. Kursus itu diselenggarakan dua
minggu sekali. Bagi Soekarno, pemahaman soal perjuangan perempuan tidak bisa
dianggap enteng. Ia jengkel kepada mereka yang mengabaikan pentingnya membahas
persoalan perempuan.
Soekarno bilang “kita tidak dapat menyusun negara dan tidak dapat
menyusun masyarakat, jika (antara lain) kita tidak mengerti soal-soal wanita,
sebab bagi Soekarno, soal wanita adalah soal masyarakat. Pertama kali Soekarno
dalam bukunya menjelaskan tentang Masa Perkembangan Manusia:
1. Berburu dan meramu
2. Bercocok tanam
3. Beternak
4. Pertukangan/ kerajinan
5. Industri
Perempuan berjasa besar kepada kemnusiaan sebagai makhluk yang
pertama mendapatkan ilmu bercocok tanam, yang sampai sekarang menjadi tiang
penghidupan manusia di muka bumi. Lalu perempuan mulai mencoba membuat tempat
kediaman yang tetap dan mulai mencoba mendirikan rumah. Lalu mulai membuat
tali, menganyam tikar dan alat lainnya.
Kaum perempuanlah yang membangun kultur pertama, “pembangunan
peradaban manusia yang pertama” (Kautsky). Perempuan di jaman periode kedua
dari evolusi kemanusiaan itu, lantas menetapkan “hukum keturunan menurut garis
peribuan”, menurut hukum peribuan ini maka keturuanan disebutkan menurut garis
ibu, bukan ditangan bapak. Maka hukum peribuan ini menjadi hukum yang pertama
dalam pergaulan manusia.
Awal
Penindasan Perempuan
Di Eropa timbul RIDDERISME yang
memandang perempuan itu sebagai makhluk yang sangat lemah, yang harus selalu
ditolong, yang disebut (Gentlemen) bagi laki-laki.
Pada
akhir abad 18 mulai timbul di Eropa jaman kepabrikan akibat dari
industrialisme, yang menghela perempuan itu keluar dari kegelapan rumah, masuk
ke dalam “struggle for life” produksi masyarakat. Perempuan menjadi sangat laku
menjadi buruh murah. Upah satu orang laki-laki untuk dua orang perempuan.
Secara
garis besar Soekarno dalam bukunya ini, ia mengemukakan ide pokoknya tentang tahapan
perkembangan suatu bangsa yang dilihat dari pergerakan suatu masyarakat atau
ideologi. Ketiga tahapan ini Beliau hubungkan dengan pergerakan perempuan.
Adapun tingkatan pergerakan perempuan sbb:
1.
Perempuan berusaha menyempurnakan
“keperempuanannya”, ia disini diartikan sebagai cara pandang umum masyarakat
(tentunya masyarakat patriarchal) mengenai kodrat perempuan, seperti memasak,
menjahit, berhias, bergaul, memeliara anak dsb.
Soekarno
merujuk pada pengalaman perempuan barat, disana muncul perserikatn atau
klu-klun perempuan, terutama dikalangan erempuan kelas atas, yang tujuannya
mempersiapkan perempuan lebi matang dalam berumah tangga. Klub-klb itu
mengajari perempuan ilmu memasak, menjahit, memelihara anak, kecantikan,
estetika dll.
Meskipun
sudah mendirikan perkumpulan dan anggotanya seluruh prempuan, tetapi mereka
belum menyinggung hak hak perempuan. Mereka tidak menyinggunng sedikit pun
patriarkisme dan ekses-eksesnya.
Kalaupun
mereka mendirikan sekolah bagi perempuan, lagi-lagi itu tidak lebih sebagai
bentuk “pembekalan” agar perempuan siap berkeluarga. “ sekolah-sekolah mereka
tak ubahnya sekolah-sekolah berumah tangga di jaman sekarang. Mereka mendidik
wanita agar laku di kalangan pemuda bangsawan daan hartawan” ungkap Soekarno.
Pelopor
gerakan ini adalah Madame de Maintenon di Prancis dan A.H Francke di Jerman.
Gerakan ini tidak memberikan penyadaran kepada perempuan. Gerakan ini masih
tunduk kepada patriarchal, yang merendahkan martabat perempuan.
2.
Pergerakan perempuan yang menuntut
persamaan hak denga kaum laki-laki, khususnya dalam melakukan pekerjaan dan hak
pilih dalam pemilu. Gerakan ini sering diberi label “emansipasi perempuan”.
Kelahiran
tingkatan kedua ini tidak terlepas dari perkembangan kapitlisme. Perubahan
corak produksi dalam hal ini dari feodalisme ke kapitalisme, turut mengubah
anggapan-anggapan (cara pandang) di dalam masyarakat, termasuk cara pandang
terhadap perempuan. Kapitalisme butuh menarik perempuan keluar rumah agar
menjadi buruh di pabri-pabrik kapitalis.
Pelopor gerakan tingkatan kedua ini
adalah Mercy Otis Warin dan Abigail Smith Adams di Amerika Serikat, Madame
Roland, Olympe de Gouges, Rose Lacome dan Theorigne de Mericourt di Prancis.
Sekalipun harus diakui diantar mereka punya metode berjuang yang berbeda-beda.
Mercy
Otis Warin dan Abigail Smith Adams misalnya, ketika penyusunan konstitusi AS
pada tahun 1776, mereka menuntut agar kaum perempuan diberi pengakuan dan
tempat didalamnya, seperti hak mendapat pedidikan dan terlibat dalam kekuasaan
politik.
Di
Prancis gerakan perempuan lebih radikal. Perempuan-perempuan Prancis mengambil
bagian dalam Revolusi Prancis (1789). Madame roland seorang perempuan kalangan
atas yang pemikirannya banyak mempengaruhi pemimpin politik Prancis. Ia menntut
partisipasi perempuan yang lebih luas.
Kemudian
ada Olympe de Gouges, mewakili perempuan kalangan bawah, yang tulisan dan
pemikirannya secara tajam menuntut persamaan hak antara perempuan dan
laki-laki. Soekarno memuji Olympe de Gouges sebagai perempuan radikal dan
militan yang berani menentang pemerintahan teror Robespiere.
Pergerakan
ini lebih bertumpu pada “persamaan hak” dalam segala hal, temasuk dalam urusan
politik. Dalam ekspresi gerakannya, lebih banyak mempersoalkan dominasi
laki-laki. Namun Soekarno menganggap gerakan ini sebagai tipe gerakan borjuis.
Sebab sekalipun nantinya segala ruang itu dibuka bagi perempuan, termasuk
politik tetap saja yang menikmati hanya perempuan kelas atas dan menengah.
Sedangkan perempuan kebanyakan yakni dari kalangan rakyat jelata tidak bisa
berpartisipasi.
Bagi
Soekarno, selama relasi produksi tidak berubah, maka perempuan kalangan bawah
tetap saja sulit berpartisipasi penuh dalam politik. Persamaan hak sajalah
tidak cukup, jikalau perempuan masih tehisap di dalam relasi produksi
kapitalis.
3. Tin gkatan ketiga ini yakni pergerakan perempuan sosialis,
dimata Soekarno merupakan penyempurnaan terhadap gerakan perempuan. Disini
gerakan perempuan tidak sebatas menuntut persamaan hak alias penghapusan
patriarkhi, tetapi hendak merombak total struktur sosial yang menindas rakyat
(laki- laki dan perempuan).
Soekarno
berusaha menarik perbedaan antara feminis liberal dan gerakan perempuan
sosialis “kaum feminis dan suffragette itu menganggap hak perwakilan itu
sebagai tujuan akhir, sedangakan wanita sosialis menganggapnya hanya sebagai
salah satu alat semata dalam perjuangan menuju hidup baru yang berkesejahteraan
sosial (sosialisme).
Dari
ketiga pergerakan ini Soekarno mengemukakan bahwa tingkat pergerakan
sosialislah yang paling utama atau yang paling baik karena merupakan suatu
cita-cita yang harus dicapai. Di dalam masyarakat sosialis itulah perempuan
dapat bereksistensi secara bebas dan merdeka. Maka dari itu seperti juga
doktrin yang diungkapkan oleh Kierkegaard bahwa perempuan harus berani untuk
menjalani proses “menjadi” dan mewujudkan citacitanya itu agar menjadi
kenyataan.
Cara
untuk mewujudkan cita-cita itulah dengan revolusi yang bersifat destruktif dan
sekaligus konstruktif (menjebol dan membangun). Revolusi akan sangat berhasil
dilakukan apabila kesadaran dari perempuan itu sendiri akan kebebasannya dan
perempuan dapat mnjadi subyek dan sadar bahwa keberadaannya itu merupakan
penentu dari keberadaan yang lain. Dan dengan munculnya kesadaran akan
eksistensi perempuan dalam pembangunan dan perjuangan maka secara bahu-mambahu
bersama laki-laki bekerjasama dalam mewujudkan suatu persatuan nasional, guna
mencapai masyarakat sosialis yang utuh.
Ucapan
Soekarno yang perlu menjadi perenungan kaum perempuan saat ini adalah :
“Perempuan Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak
dalam usaha menyelamatkan Republik dan nanti jika Republik telah selamat
ikutlah serta dalam menyusun Negara Nasional. Jangan ketinggalan pula nanti di
dalam usaha menyusun masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial. Di
dalam masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial itulah engkau nanti
jadi perempuan yang bahagia, perempuan yang merdeka!”
Merdeka !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar