Minggu, 25 Desember 2016

SARINAH
Oleh: DPC Gmni Purwokerto

Buku “Sarinah” selesai cetak November 1947. Kata Soekarno, buku ini berisi bahan – bahan yang disampaikannya saat kursus wanita di Jogjakarta. Kursus itu diselenggarakan dua minggu sekali. Bagi Soekarno, pemahaman soal perjuangan perempuan tidak bisa dianggap enteng. Ia jengkel kepada mereka yang mengabaikan pentingnya membahas persoalan perempuan.

Soekarno bilang “kita tidak dapat menyusun negara dan tidak dapat menyusun masyarakat, jika (antara lain) kita tidak mengerti soal-soal wanita, sebab bagi Soekarno, soal wanita adalah soal masyarakat. Pertama kali Soekarno dalam bukunya menjelaskan tentang Masa Perkembangan Manusia:

1.    Berburu dan meramu

2.   Bercocok tanam

3.   Beternak

4.   Pertukangan/ kerajinan

5.   Industri

Perempuan berjasa besar kepada kemnusiaan sebagai makhluk yang pertama mendapatkan ilmu bercocok tanam, yang sampai sekarang menjadi tiang penghidupan manusia di muka bumi. Lalu perempuan mulai mencoba membuat tempat kediaman yang tetap dan mulai mencoba mendirikan rumah. Lalu mulai membuat tali, menganyam tikar dan alat lainnya.

Kaum perempuanlah yang membangun kultur pertama, “pembangunan peradaban manusia yang pertama” (Kautsky). Perempuan di jaman periode kedua dari evolusi kemanusiaan itu, lantas menetapkan “hukum keturunan menurut garis peribuan”, menurut hukum peribuan ini maka keturuanan disebutkan menurut garis ibu, bukan ditangan bapak. Maka hukum peribuan ini menjadi hukum yang pertama dalam pergaulan manusia.

Awal Penindasan Perempuan

Di Eropa timbul RIDDERISME yang memandang perempuan itu sebagai makhluk yang sangat lemah, yang harus selalu ditolong, yang disebut (Gentlemen) bagi laki-laki.

Pada akhir abad 18 mulai timbul di Eropa jaman kepabrikan akibat dari industrialisme, yang menghela perempuan itu keluar dari kegelapan rumah, masuk ke dalam “struggle for life” produksi masyarakat. Perempuan menjadi sangat laku menjadi buruh murah. Upah satu orang laki-laki untuk dua orang perempuan.

Secara garis besar Soekarno dalam bukunya ini, ia mengemukakan ide pokoknya tentang tahapan perkembangan suatu bangsa yang dilihat dari pergerakan suatu masyarakat atau ideologi. Ketiga tahapan ini Beliau hubungkan dengan pergerakan perempuan. Adapun tingkatan pergerakan perempuan sbb:

1.            Perempuan berusaha menyempurnakan “keperempuanannya”, ia disini diartikan sebagai cara pandang umum masyarakat (tentunya masyarakat patriarchal) mengenai kodrat perempuan, seperti memasak, menjahit, berhias, bergaul, memeliara anak dsb.

Soekarno merujuk pada pengalaman perempuan barat, disana muncul perserikatn atau klu-klun perempuan, terutama dikalangan erempuan kelas atas, yang tujuannya mempersiapkan perempuan lebi matang dalam berumah tangga. Klub-klb itu mengajari perempuan ilmu memasak, menjahit, memelihara anak, kecantikan, estetika dll.

Meskipun sudah mendirikan perkumpulan dan anggotanya seluruh prempuan, tetapi mereka belum menyinggung hak hak perempuan. Mereka tidak menyinggunng sedikit pun patriarkisme dan ekses-eksesnya.

Kalaupun mereka mendirikan sekolah bagi perempuan, lagi-lagi itu tidak lebih sebagai bentuk “pembekalan” agar perempuan siap berkeluarga. “ sekolah-sekolah mereka tak ubahnya sekolah-sekolah berumah tangga di jaman sekarang. Mereka mendidik wanita agar laku di kalangan pemuda bangsawan daan hartawan” ungkap Soekarno.

Pelopor gerakan ini adalah Madame de Maintenon di Prancis dan A.H Francke di Jerman. Gerakan ini tidak memberikan penyadaran kepada perempuan. Gerakan ini masih tunduk kepada patriarchal, yang merendahkan martabat perempuan.
2.           Pergerakan perempuan yang menuntut persamaan hak denga kaum laki-laki, khususnya dalam melakukan pekerjaan dan hak pilih dalam pemilu. Gerakan ini sering diberi label “emansipasi perempuan”.

Kelahiran tingkatan kedua ini tidak terlepas dari perkembangan kapitlisme. Perubahan corak produksi dalam hal ini dari feodalisme ke kapitalisme, turut mengubah anggapan-anggapan (cara pandang) di dalam masyarakat, termasuk cara pandang terhadap perempuan. Kapitalisme butuh menarik perempuan keluar rumah agar menjadi buruh di pabri-pabrik kapitalis.

Pelopor gerakan tingkatan kedua ini adalah Mercy Otis Warin dan Abigail Smith Adams di Amerika Serikat, Madame Roland, Olympe de Gouges, Rose Lacome dan Theorigne de Mericourt di Prancis. Sekalipun harus diakui diantar mereka punya metode berjuang yang berbeda-beda.

Mercy Otis Warin dan Abigail Smith Adams misalnya, ketika penyusunan konstitusi AS pada tahun 1776, mereka menuntut agar kaum perempuan diberi pengakuan dan tempat didalamnya, seperti hak mendapat pedidikan dan terlibat dalam kekuasaan politik.

Di Prancis gerakan perempuan lebih radikal. Perempuan-perempuan Prancis mengambil bagian dalam Revolusi Prancis (1789). Madame roland seorang perempuan kalangan atas yang pemikirannya banyak mempengaruhi pemimpin politik Prancis. Ia menntut partisipasi perempuan yang lebih luas.

Kemudian ada Olympe de Gouges, mewakili perempuan kalangan bawah, yang tulisan dan pemikirannya secara tajam menuntut persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Soekarno memuji Olympe de Gouges sebagai perempuan radikal dan militan yang berani menentang pemerintahan teror Robespiere.

Pergerakan ini lebih bertumpu pada “persamaan hak” dalam segala hal, temasuk dalam urusan politik. Dalam ekspresi gerakannya, lebih banyak mempersoalkan dominasi laki-laki. Namun Soekarno menganggap gerakan ini sebagai tipe gerakan borjuis. Sebab sekalipun nantinya segala ruang itu dibuka bagi perempuan, termasuk politik tetap saja yang menikmati hanya perempuan kelas atas dan menengah. Sedangkan perempuan kebanyakan yakni dari kalangan rakyat jelata tidak bisa berpartisipasi.

Bagi Soekarno, selama relasi produksi tidak berubah, maka perempuan kalangan bawah tetap saja sulit berpartisipasi penuh dalam politik. Persamaan hak sajalah tidak cukup, jikalau perempuan masih tehisap di dalam relasi produksi kapitalis.

3.  Tin gkatan ketiga ini yakni pergerakan perempuan sosialis, dimata Soekarno merupakan penyempurnaan terhadap gerakan perempuan. Disini gerakan perempuan tidak sebatas menuntut persamaan hak alias penghapusan patriarkhi, tetapi hendak merombak total struktur sosial yang menindas rakyat (laki- laki dan perempuan).

Soekarno berusaha menarik perbedaan antara feminis liberal dan gerakan perempuan sosialis “kaum feminis dan suffragette itu menganggap hak perwakilan itu sebagai tujuan akhir, sedangakan wanita sosialis menganggapnya hanya sebagai salah satu alat semata dalam perjuangan menuju hidup baru yang berkesejahteraan sosial (sosialisme).

Dari ketiga pergerakan ini Soekarno mengemukakan bahwa tingkat pergerakan sosialislah yang paling utama atau yang paling baik karena merupakan suatu cita-cita yang harus dicapai. Di dalam masyarakat sosialis itulah perempuan dapat bereksistensi secara bebas dan merdeka. Maka dari itu seperti juga doktrin yang diungkapkan oleh Kierkegaard bahwa perempuan harus berani untuk menjalani proses “menjadi” dan mewujudkan citacitanya itu agar menjadi kenyataan.

Cara untuk mewujudkan cita-cita itulah dengan revolusi yang bersifat destruktif dan sekaligus konstruktif (menjebol dan membangun). Revolusi akan sangat berhasil dilakukan apabila kesadaran dari perempuan itu sendiri akan kebebasannya dan perempuan dapat mnjadi subyek dan sadar bahwa keberadaannya itu merupakan penentu dari keberadaan yang lain. Dan dengan munculnya kesadaran akan eksistensi perempuan dalam pembangunan dan perjuangan maka secara bahu-mambahu bersama laki-laki bekerjasama dalam mewujudkan suatu persatuan nasional, guna mencapai masyarakat sosialis yang utuh.

Ucapan Soekarno yang perlu menjadi perenungan kaum perempuan saat ini adalah : “Perempuan Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik dan nanti jika Republik telah selamat ikutlah serta dalam menyusun Negara Nasional. Jangan ketinggalan pula nanti di dalam usaha menyusun masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial. Di dalam masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial itulah engkau nanti jadi perempuan yang bahagia, perempuan yang merdeka!”


Merdeka !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar