MARHAENISME SEBAGAI
IDEOLOGI
GERAKAN ‘KIRI’
OLEH : SALAHUDIN
TUNJUNG SETA
GMNI CABANG PURWOKERTO
“Orang Kiri adalah mereka jang
menghendaki perobahan kekuasaan kapitalis, imperialis jang ada sekarang.
Kehendak untuk menjebarkan keadilan sosial adalah kiri. Ia tidak perlu Komunis.
Orang kiri bahkan dapat bertjektjok dengan orang Komunis. Kiriphobi, penjakit
takut akan tjita-tjita kiri, adalah penjakit jang kutentang habis-habisan
seperti Islamophobi. Nasionalisme tanpa keadilan sosial mendjadi nihilisme.”—Soekarno
dalam Cindy Adams (1966:100)
Paham kiri identik dengan paham
Komunis . namun sebenarnya Kiri bukanlah milik Komunis, semua orang, semua
golongan bisa jadi Kiri , tidak harus Komunis. Berdasarkan sejarah , Paham Kiri
lahir dan berasal dari Perancis. Lahir atas revolusi yang terjadi di Perancis.
Pada saat itu pada akhir abad ke-18, di masa sekitar Raja Louis XVI dipancung
guillotine tahun 1792. Ketika itu, semboyan kebebasan (liberté), persamaan
(egalité) dan persaudaraan (fraternité) menjadi daya tarik massa revolusioner,
kaum buruh dan tani, untuk bersama-sama kaum borjuis meruntuhkan pemerintah
feodalistis. Tapi setelah kaum borjuis berhasil mengambil alih kekuasaan,
rakyat jelata tidak memperoleh kekuasaan apa-apa. Feodalisme diganti oleh borjuisme,
yakni kekuasaan politik yang didominasi kepentingan segelintir lapisan
atas-ekonomi. Rakyat hanya memperoleh kebebasan, sedangkan persamaan dan
persaudaraan cuma menjadi slogan.
Dalam kondisi itu, ternyata masih ada
sekumpulan orang di parlemen yang menentang borjuisme. Mereka duduk mengelompok
di sayap kiri ruangan. Karena itu, mereka disebut “kaum kiri”. Mereka
berhadapan dengan para pendukung borjuisme yang menggerombol di sebelah kanan.
Sejak itu “kiri” dan “kanan” menjadi kosa kata politik.
Kaum Kiri merupakan kaum yang
senantiasa membela rakyat, baik itu petani, buruh, nelayan dan lain-lain, serta
rakyat miskin yang senantiasa menjadi obyek penindasan dan penghisapan penguasa
akibat sistem imperialis dan kapitalisme yang diterapkannya.
“….ayo kita berjalan terus menjalankan berdikari di segala lapangan!
Berdikari politik, berdikari ekonomi, berdikari kultur, berdikari kebudayaan,
berjalan di atas relnya revolusi kita, ialah revolusi kiri”(Soekarno, 30
November 1965).
Soekarno dalam pidatonya pada 30 November 1965 pada
musyawarah kerja nasional pertanian rakyat di Istana Negara, Jakarta,
memberikan amanat kepada bangsa Indonesia agar tidak mudah percaya pada bangsa
asing yang memberikan alasan etis-moralis sementara itu bangsa asing baik
disadari maupun tidak disadari oleh bangsa Indonesia, berencana atau sedang dan
atau telah memeras (untuk tidak mengatakan merampok) kekayaan alam dan tenaga
kerja Indonesia.
Indonesia
sangat anti imperialis-kapitalis, Indonesia anti penghisapan. Indonesia telah menjadi
ladang dari Imperialisme dan Kapitalisme selama 3,5 abad. Rakyat Indonesia
dihisap tenaganya, Sumber daya alam Indonesia dihisap isinya bukan untuk
kemakmuran rakyat tetapi untuk perut buncit si Kapitalis.
Indonesia
memiliki sejarah panjang mengenai Imperialisme dan Kapitalisme. Disini
dikatakan sebagai sejarah bukan berarti sekarang tidak ada mahluk terkutuk yang
bernama Imperialisme-Kapitalisme. Sekarang masih ada di dunia , pertanyaanya
“apakah ‘Mahluk’ ini akan tetap ada di Indonesia atau enyah dari Bumi
Indonesia?”. Cara menyingkirkan Imperialisme-Kapitalisme adalah dengan sikap
dan perilaku yang didasari dengan paham Perlawanan, paham Anti Imperialis
Kapitalisme yaitu paham atau ideologi Marhaenisme.
Marhaenisme
disini diciptakan oleh Bung Karno untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang
mandiri dan makmur. Bukan menjadi alat Kapitalis untuk mempergendut perut si
Kapitalis. Kenyataan social ekonomi pada saat itu menunjukan bahwa rakyat
Indonesia dipaksa hidup dengan sebenggol sehari oleh kekuasaan kolonial Belanda
yang menyebabkan rakyat Indonesia sengsara. Hal ini mendorong Bung Karno
menyimpulkan bahwa amanat penderitaan rakyat harus menjadi bagian dari tuntutan
yang diperjuangkan itu. Maka masyarakat yang adil dan makmur yang berdasarkan prinsip
sosialisme menjadi bagian dari cita-cita rakyat. Dan karenanya juga merupakan
unsur mempersatukan, maka adalah logis kalau Bung Karno merumuskan ideologi
politiknya sebagai Sosio Nasionalisme: nasionalisme yang social bewust (kata
Bung Karno) nasionalisme yang sadar akan tuntutan sosial rakyat dan bangsanya.
Sosio
Nasionalisme juga diartikan menjadi Nasionalisme yang tidak anarkis/ekstrimis.
Seperti kata Mahatma Gandhi “My Nasionalism is Humanity”, nasionalisme aku
adalah Peri Kemanusian yang disampaikan oleh Bung Karno saat Sidang BPUPKI
tanggal 1 Juni 1945. Sehingga nasionalisme yang anut Indonesia adalah
nasionalisme yang menganut peri kemanusian juga.
Kenyataan
sekarang, banyak yang berkembang paham paham yang ekstrimis bahkan dengan
berlatar belakang agama. Ini sangat jauh dengan sosio nasionalisme yang
mengedepankan peri kemanusiaan demi kemaslahatan bersama dan mengcover segala
golongan yang ada di Indonesia.
Rumusan
selanjutnya yaitu Sosio Demokrasi, dimana yang dimaksud adalah demokrasi yang
sadar akan watak dan tradisi sosial yang penuh kekeluargaan. Sosio demokrasi
dengan sendirirnya bukan demokrasi Liberal dan juga bukan demokrasi Komunis
tetapi demokrasi Indonesia, demokrasi rakyat Indonesia yang selalu bergotong
royong. Namun nyatanya kini budaya demokrasi rakyat Indonesia yang selalu
bergotong royong sudah luntur dan digantikan dengan budaya individualistis yang
berkiblat pada kapital.
Kenyataan
sekarang, para kaum Marhaen semakin tertindas di tanah sendiri. Negara sekarang
berkembang dan berpihak ke para kaum kanan , kaum kapitalis yang hanya
berprospek ke keuntungan tanpa melihat kepentingan umum (kepentingan Bersama).
Jalannya
bangsa Indonesia ini telah dialihkan ke Kanan , ke arah para kepentingan kaum
Kapitalis, tanpa memikirkan kaum kaum marhaen. Yang kaya semakin kaya dan yang
miskin semakin miskin. Oleh karena itu sangat penting adanya gerakan Kiri yang
berpaham Marhaenisme sebagai penyelamat para Marhaen dan mengembalikan revolusi
Indonesia ke arah Kiri.