MARHAENISME UNTUK MENJAGA KEUTUHAN
BANGSA
Oleh: Anggi Permana
GMNI CABANG PURWOKERTO
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri
dari berbagai ragam suku, agama, budaya, etnis yang tersebar di berbagai pulau.
Ini merupakan sebuah kekayaan yang patut menjadi kebanggaan besar bagi seluruh
rakyat Indonesia. Namun, kebanggaan ini menjadi tidak bermakna ketika
kebhinekaan yang ada tidak menjadi bagian dari diri setiap anak bangsa dan akan
memunculkan sifat sekretarian, yang akan menggerus rasa nasionalisme. Ini
masalah kebangsaan yang senantiasa muncul di tengah masyarakat. Kesadaran yang
utuh akan kebhinekaan yang termanifesatsikan dalam tindakan nyata keseharian
adalah kerangka dasar yang akan menggerakkan sifat nasionalisme yang tinggi.
Sehingga kebhinekaan yang ada dapat terajut nilai-nilai kebersamaan di tengah
ketunggalikaan yang berlandaskan moral Pancasila.
Kita tentu sangat prihatin dengan beragam
konflik yang terjadi belakangan ini, seperti konflik agama yang terjadi di Papua, konflik terkait pelanggaran Hak
Asasi Manusia (HAM) di Mesuji dan masih banyak lagi kasus-kasus lain yang pada
dasarnya disebabkan oleh ketidakmampuan bangsa merajut persatuan dalam
keragaman bangsa Indonesia.
Kita kurang menyadari bahwa negara ini
terbentuk dari beragam perbedaan yang tidak akan bisa berjaya tanpa semangat
persatuan dan kesatuan bangsa yang dilandasi perbedaan itu. Oleh karena itu,
persatuan dan kesatuan bangsa merupakan refleksi dari perbedaan itu dan menjadi
harga mati yang harus dicapai demi terciptanya kesejahteraan bangsa Indonesia.
Secara nyata kita harus menyadari bahwa
kebhineka-an merupakan hukum alam yang tidak bisa dipungkiri. Ibarat dua sisi
mata pisau, kebhinnekaan pada satu sisi menjadi sebuah potensi yang dapat
memberikan nilai lebih. Keragaman yang ada jika diolah dengan baik akan
menciptakan kehidupan indah yang penuh dengan warna dalam satu kesamaan, di
bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan asas Pancasila.
Namun, pada sisi lain kebhinekaan tersebut jika tidak dapat dikelola dengan
baik juga berpotensi mengancam keutuhan bangsa besar yang tersebar di ribuan
pulau besar dan kecil di khatulistiwa ini.
Dengan adanya hal ini, maka dapat disimpulkan bahwa
persatuan dan kesatuan yang didewa-dewakan soekarno itu sangat penting dan
merupakan kebutuhan primer untuk menjaga keutuhan negeri ini. Saking pentingnya
kesatuan dan persatuan, maka oleh Soekarno kesatuan dan persatuan ini
dimasukkan ke dalam inti penting eka sila yaitu gotong royong. Dengan adanya
gotong royong, disana otomatis terjalin rasa saling memiliki (ikatan emosional)
dan terwujud pula persatuan. Pada hakekatnya gotong royong apabila dijabarkan
akan menghasilkan tri sila, yakni: Sosio Nasionalis, Sosio Demokrasi, dan
ketuhanan yang berkebudayaan.
Tri sila ini merupakan ajaran soekarno yang sering
dikenal sebagai Marhaenisme. Dengan kata lain, apabila diurut lagi kepada
permasalahan kebangsaan yang dikemukakan diawal, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa cara yang sangat baik untuk menyelesaikan permasalahan diatas, adalah
dengan mengaplikasikan nilai-nilai yang terdapat dalam tri sila ataupun dengan
memahami dan mengaplikasikan Marhenisme.
Adapun hal yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan
permasalahan diatas dengan memahami dan mengaplikasikan Marhaenisme,
diantaranya:
1.
Dengan
meningkatkan rasa toleransi antar anggota keluarga, anggota organisasi, sampai
ujungnya antar masyarakat, baik itu dalam segi beragama, berkeyakinan ataupun
ber-ideology.
2. Menuntut
pemerintah agar meniadakan segala jenis KKN dalam praktek pemerintahannya dan
memfokuskan segala jenis kebijakan ataupun peraturan untuk kepentingan rakyat.
3. Menyadarkan
semua elemen Negara dan bangsa Indonesia untuk memanusiakan manusia.
Dengan
mengaplikasikan ke tiga hal diatas, permasalahan seperti yang dikemukakan di
awal pembicaraan besar kemungkinan akan terselesaikan, dan tujuan Soekarno pada
negeri ini yang termaktub dalam Pancasila tepatnya pada sila ke 5 “keadilan social bagi seluruh rakyat
Indonesia” besar kemungkinan juga akan
tercapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar