Rabu, 23 November 2016

MARHAENISME SEBAGAI IDEOLOGI
GERAKAN ‘KIRI’

OLEH : SALAHUDIN TUNJUNG SETA
GMNI CABANG PURWOKERTO

“Orang Kiri adalah mereka jang menghendaki perobahan kekuasaan kapitalis, imperialis jang ada sekarang. Kehendak untuk menjebarkan keadilan sosial adalah kiri. Ia tidak perlu Komunis. Orang kiri bahkan dapat bertjektjok dengan orang Komunis. Kiriphobi, penjakit takut akan tjita-tjita kiri, adalah penjakit jang kutentang habis-habisan seperti Islamophobi. Nasionalisme tanpa keadilan sosial mendjadi nihilisme.”—Soekarno dalam Cindy Adams (1966:100)
Paham kiri identik dengan paham Komunis . namun sebenarnya Kiri bukanlah milik Komunis, semua orang, semua golongan bisa jadi Kiri , tidak harus Komunis. Berdasarkan sejarah , Paham Kiri lahir dan berasal dari Perancis. Lahir atas revolusi yang terjadi di Perancis. Pada saat itu pada akhir abad ke-18, di masa sekitar Raja Louis XVI dipancung guillotine tahun 1792. Ketika itu, semboyan kebebasan (liberté), persamaan (egalité) dan persaudaraan (fraternité) menjadi daya tarik massa revolusioner, kaum buruh dan tani, untuk bersama-sama kaum borjuis meruntuhkan pemerintah feodalistis. Tapi setelah kaum borjuis berhasil mengambil alih kekuasaan, rakyat jelata tidak memperoleh kekuasaan apa-apa. Feodalisme diganti oleh borjuisme, yakni kekuasaan politik yang didominasi kepentingan segelintir lapisan atas-ekonomi. Rakyat hanya memperoleh kebebasan, sedangkan persamaan dan persaudaraan cuma menjadi slogan.
Dalam kondisi itu, ternyata masih ada sekumpulan orang di parlemen yang menentang borjuisme. Mereka duduk mengelompok di sayap kiri ruangan. Karena itu, mereka disebut “kaum kiri”. Mereka berhadapan dengan para pendukung borjuisme yang menggerombol di sebelah kanan. Sejak itu “kiri” dan “kanan” menjadi kosa kata politik.
Kaum Kiri merupakan kaum yang senantiasa membela rakyat, baik itu petani, buruh, nelayan dan lain-lain, serta rakyat miskin yang senantiasa menjadi obyek penindasan dan penghisapan penguasa akibat sistem imperialis dan kapitalisme yang diterapkannya.
“….ayo kita berjalan terus menjalankan berdikari di segala lapangan! Berdikari politik, berdikari ekonomi, berdikari kultur, berdikari kebudayaan, berjalan di atas relnya revolusi kita, ialah revolusi kiri”(Soekarno, 30 November 1965).
Soekarno dalam pidatonya pada 30 November 1965 pada musyawarah kerja nasional pertanian rakyat di Istana Negara, Jakarta, memberikan amanat kepada bangsa Indonesia agar tidak mudah percaya pada bangsa asing yang memberikan alasan etis-moralis sementara itu bangsa asing baik disadari maupun tidak disadari oleh bangsa Indonesia, berencana atau sedang dan atau telah memeras (untuk tidak mengatakan merampok) kekayaan alam dan tenaga kerja Indonesia.
            Indonesia sangat anti imperialis-kapitalis, Indonesia anti penghisapan. Indonesia telah menjadi ladang dari Imperialisme dan Kapitalisme selama 3,5 abad. Rakyat Indonesia dihisap tenaganya, Sumber daya alam Indonesia dihisap isinya bukan untuk kemakmuran rakyat tetapi untuk perut buncit si Kapitalis.
            Indonesia memiliki sejarah panjang mengenai Imperialisme dan Kapitalisme. Disini dikatakan sebagai sejarah bukan berarti sekarang tidak ada mahluk terkutuk yang bernama Imperialisme-Kapitalisme. Sekarang masih ada di dunia , pertanyaanya “apakah ‘Mahluk’ ini akan tetap ada di Indonesia atau enyah dari Bumi Indonesia?”. Cara menyingkirkan Imperialisme-Kapitalisme adalah dengan sikap dan perilaku yang didasari dengan paham Perlawanan, paham Anti Imperialis Kapitalisme yaitu paham atau ideologi Marhaenisme.
            Marhaenisme disini diciptakan oleh Bung Karno untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang mandiri dan makmur. Bukan menjadi alat Kapitalis untuk mempergendut perut si Kapitalis. Kenyataan social ekonomi pada saat itu menunjukan bahwa rakyat Indonesia dipaksa hidup dengan sebenggol sehari oleh kekuasaan kolonial Belanda yang menyebabkan rakyat Indonesia sengsara. Hal ini mendorong Bung Karno menyimpulkan bahwa amanat penderitaan rakyat harus menjadi bagian dari tuntutan yang diperjuangkan itu. Maka masyarakat yang adil dan makmur yang berdasarkan prinsip sosialisme menjadi bagian dari cita-cita rakyat. Dan karenanya juga merupakan unsur mempersatukan, maka adalah logis kalau Bung Karno merumuskan ideologi politiknya sebagai Sosio Nasionalisme: nasionalisme yang social bewust (kata Bung Karno) nasionalisme yang sadar akan tuntutan sosial rakyat dan bangsanya.
            Sosio Nasionalisme juga diartikan menjadi Nasionalisme yang tidak anarkis/ekstrimis. Seperti kata Mahatma Gandhi “My Nasionalism is Humanity”, nasionalisme aku adalah Peri Kemanusian yang disampaikan oleh Bung Karno saat Sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Sehingga nasionalisme yang anut Indonesia adalah nasionalisme yang menganut peri kemanusian juga.
            Kenyataan sekarang, banyak yang berkembang paham paham yang ekstrimis bahkan dengan berlatar belakang agama. Ini sangat jauh dengan sosio nasionalisme yang mengedepankan peri kemanusiaan demi kemaslahatan bersama dan mengcover segala golongan yang ada di Indonesia.
            Rumusan selanjutnya yaitu Sosio Demokrasi, dimana yang dimaksud adalah demokrasi yang sadar akan watak dan tradisi sosial yang penuh kekeluargaan. Sosio demokrasi dengan sendirirnya bukan demokrasi Liberal dan juga bukan demokrasi Komunis tetapi demokrasi Indonesia, demokrasi rakyat Indonesia yang selalu bergotong royong. Namun nyatanya kini budaya demokrasi rakyat Indonesia yang selalu bergotong royong sudah luntur dan digantikan dengan budaya individualistis yang berkiblat pada kapital.
            Kenyataan sekarang, para kaum Marhaen semakin tertindas di tanah sendiri. Negara sekarang berkembang dan berpihak ke para kaum kanan , kaum kapitalis yang hanya berprospek ke keuntungan tanpa melihat kepentingan umum (kepentingan Bersama).  

            Jalannya bangsa Indonesia ini telah dialihkan ke Kanan , ke arah para kepentingan kaum Kapitalis, tanpa memikirkan kaum kaum marhaen. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Oleh karena itu sangat penting adanya gerakan Kiri yang berpaham Marhaenisme sebagai penyelamat para Marhaen dan mengembalikan revolusi Indonesia ke arah Kiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar